cerita liburan ke gunung bromo

TahunBaru yang gagal di Gunung Bromo. Ini cerita saya ketika malam tahun baru 2017. Setahun lalu saya ingin melihat matahari terbit atau sunrise di G. Jangan Pergi Liburan Tahun Baru ke Gunung Bromo! 31 Desember 2017 18:30 Diperbarui: 1 Januari 2018 20:20 4949 8 6 + Laporkan Konten. Laporkan Akun. Lihat foto Gunung Batok di sebelah Gunung Welche Singlebörse Ist Kostenlos Für Frauen. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. salam kawan, aku mau berbagi pengalan ni untuk kalian yang suka jalan-jalan. kali ini aku mau berbagi pengalamanku ketika mengunjungi gunung bromo, Gunung Bromo merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Timur. Tempat wisata alam ini terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di timur kota Malang, Jawa Timur. Pengunjungnya bukan hanya wisatawan lokal, bahkan banyak yang berasal dari luar negeri. Dengan pemandangan yang khas membuat Bromo layak menjadi tujuan wisata. langsung aja ni sedikit cerita, waktu itu kami mengunjungi bromo bersama teman-teman kerja, saat itu kami menuju kota malang menggunakan bus pariwisata yang mengantarkan kami menuju salah satu rumah makan sebelum kami menuju gunung bromo. saat itu kami tiba di rumah makan waktu maghrib, setelah sholat kemudian dilanjutkan makan malam, setelah itu kami ganti kendaran menggunakan mobil sejenis suttle yang mengantar kami menuju salah satu hotel di gunung bromo, dari tempat kita makan menuju ke hotel sekitar 1 jaman si. saat itu memang kami tidak bisa melihat pemandangan yang menakjubkan, maklum karna hari sudah gelap hehehehee. setelah sampai kami langsung mandi, untung aja di hotelnya menyediakan air panas untuk mandi soalnya di sana sanggaaattt dingin sekali brrrrrr. kemudian kami istirahat karena pagi-pagi sekali kami harus bangun menuju penanjakan untuk menjemput sun rise. pagi pun tiba kami bangun jam 3 pagi, saat itu kami sudah di jemput jeep karena untuk menuju pananjakan atau lautan pasir bromo kita harus menaiki jeep. kami langsung di antar menuju penanjakan nah kebetulan saat itu adalah hari minggu jadi sangat rame dengan pengunjung yang begitu banyak, hingga mobil jeep kami macet akhirnya kami harus berjalan kaki, tapi hal itu sangat menyenangkan karna sambil berjalan kaki kami disuguhi pemandangan alam ciptaan tuhan yang sangatttt luar biasa hingga kami tidak bisa merasakan capek dan tidak bisa berkata-kata. hingga akhirnya tidak terasa kami sampai di puncak tepat di saat sang surya menapakkan sinarnya, semakin lengkap sudah keindahan gunung bromo yang sangat menakjupkan hhe. maka dari itu kami tidak akan melupakan pengalaman yang sangat luar biasa itu, dan kalau di suruh kesana lagi rasanya tidak mau menolak hihihihi Lihat Travel Story Selengkapnya Alhamdulillah, liburan sekolah bulan Juli kemarin, kami sekeluarga bisa berlibur ke Malang. Ini adalah pertama kalinya anak-anak menginjakkan kaki di Jawa Timur, jadi mereka sangat gembira. Apalagi kami sengaja naik kereta saat berangkat. Salah satu rencana kami adalah mengunjungi Gunung Bromo. Dari hasil bertanya kepada beberapa teman, hasil googling, akhirnya kami memutuskan untuk melihat matahari terbit di Bromo. Sebenarnya ini tidak direkomendasikan oleh teman saya, karena kami harus berangkat dini hari dari Malang, tempat kami menginap. Salah satu alternatif bisa menginap di daerah Bromo, tapi karena sudah telanjur booking hotel di Malang, kami memutuskan berangkat dari Malang. Dengan beberapa pertimbangan, juga melihat anak-anak kami yang memang sudah biasa bepergian jalan darat sejak mereka bayi, kami memutuskan ke Bromo dini hari untuk melihat matahari terbit. Saya lalu mencari travel untuk ke Bromo-nya. Ternyata ada banyak pilihan paket tour yang ditawarkan oleh travel lokal di sana. Saya juga mendapatkan rekomendasi dari pihak hotel. Ternyata travel yang sama pernah dipakai oleh teman saya yang lain, dan hasilnya memuaskan. Akhirnya kami mantap memilih tur rekomendasi hotel. Pada hari yang telah ditentukan, pukul kami dijemput di hotel oleh pihak travel. Saya sudah memasang alarm untuk bangun pukul dan ternyata tepat saya bangun, ada telepon dari resepsionis bahwa kami sudah dijemput. Untung saya sudah bersiap-siap pada malam harinya, sehingga saya cukup membangunkan anak pertama dan kedua kami untuk sikat gigi dan berganti baju saja. Untuk si bungsu, cukup saya kenakan jaket dan langsung saya gendong. Alhamdulillah si bungsu tidak rewel dan langsung pulas kembali. Perjalanan dari Malang ke Bromo memakan waktu kurang lebih 2 jam. Kakak Shafa dan Mas Hafiz langsung pindah tidur saja. Begitu juga Dek Reefa. Alhamdulillah karena masih minum ASI, kalau terbangun langsung saya susui, dan langsung terlelap lagi. Kami memakai mobil jenis Trooper. Sebenarnya pada awalnya suami tidak setuju, minta ganti Innova/APV, dan baru berganti jeep di Pananjakan, tempat kami akan melihat matahari terbit sebelum ke kawah Bromo. Tapi pihak travel menyarankan tetap memakai Trooper saja karena kondisi jalanan. Dan memang akhirnya kami lihat selama perjalanan tidak kami temukan jenis mobil pribadi, semua mobil yang menuju Bromo jenisnya jeep/trooper. Dalam perjalanan kami ke Penanjakan, tempat kami akan melihat matahari terbit, kami diberi tambahan seorang pemandu wisata bukan supirnya, yaitu mahasiswa jurusan pariwisata yang sedang kerja lapangan di travel tersebut. Pukul kami sampai di Penanjakan, setelah parkir kami menuju warung-warung yang ada di bagian bawah Pananjakan. Kami mendapatkan teh hangat untuk mengatasi dingin yang langsung terasa begitu kami turun dari mobil. Di warung-warung itu juga tersedia mie instan dan pisang goreng. Di sekitar warung-warung kopi ini, juga banyak warung suvernir, yang menjual jaket, syal, topi, dll. Bahkan ada persewaan jaket juga. Oh iya, kalau mau buang air kecil, di warung-warung ini juga ada toilet yang lumayan bersih.< Pukul kami berjalan menuju ke tempat melihat matahari terbit. Ada beberapa anak tangga menuju ke lokasi. Sampai di atas, kami melihat tempat duduk besi berjajar-jajar untuk melihat matahari terbit. Sayang di bagian paling depan, banyak orang berdiri, bahkan naik ke tembok pembatasnya untuk mengambil foto. Dari keadaan gelap gulita, lama-lama mulai terlihat semburat kuning jingga, matahari mulai muncul malu-malu, sampai akhirnya matahari bersinar terang, sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan buat anak-anak kami. Bagi saya dan suami, ini menjadi pengingat untuk lebih bersyukur atas semua karunia Allah yang tiada taranya ini. Sayang saat itu, awan dan kabut agak menutupi saat matahari mulai terbit, tapi tetap saja indah menurut kami. Dari Penanjakan, kami menuju ke kawah Bromo. Sebelumnya mobil kami melewati jalan setapak bukan jalan umum, kata supir kami, jalan ini menuju pemandangan negeri di atas awan. Sesampai di lokasi, ternyata benar-benar ada awan di dekat kami. Pemandangan negeri di atas awan itu maksudnya pemandangan tiga gunung yaitu Gunung Bathok, Gunung Semeru, dan Gunung Bromo. Jalan menuju ke kawah Bromo berkelok-kelok menuruni perbukitan. Sayang jalanannya rusak parah, belum lagi kalau turun hujan, kondisi jalanan pasti makin parah. Tentu saja ini menjawab pertanyaan kami kenapa hanya mobil jenis jeep saja yang bisa melewatinya. Saya sempat membayangkan, andaikan jalanan menuju kawah Bromo ini bisa seperti kelokan 44 menuju Danau Maninjau di Sumatera Barat, pasti pariwisata Bromo akan lebih ramai. Setelah melewati kelokan yang panjang dan bergelombang, sampailah kami di bawah yaitu di padang pasirnya. Tidak berapa lama kami sampai di kawah Bromo. Dari tempat parkir kami menuju ke tanjakan tangga menuju kawah bisa berjalan kaki atau naik kuda. Biaya naik kuda sekali jalan Di tempat parkir juga banyak meja penjual kopi dan mie instan. Juga ada toilet yang lumayan bersih. Sayang anak-anak tidak ingin naik ke kawahnya, padahal kami ingin sekali mencobanya. Konon ada 200 tangga dari dasar ke atas kawah Bromo. Tapi kami mengikuti kemauan anak-anak. Setelah sarapan roti tawar yang kami dapatkan dari tur, ditambah mie rebus dan mie goreng, kami melanjutkan perjalanan ke padang Savana dan Pasir Berbisik. Duh hamparan rumput kering kekuningan di padang luas seperti ini, sungguh membuat hati ini senang. Reefa sangat puas berlarian di sini. Sayang sewaktu d isini, Kakak Shafa ketiduran di mobil. Sebetulnya masih ada 2 tempat yang ditawarkan yaitu ke air terjun Madakaripura dan Candi Singosari. Sewaktu menuju Candi Singosari ternyata semua anak-anak terlelap tidur, akhirnya kami memutuskan kembali ke Malang. Walaupun tidak semua tujuan tercapai, kami gembira dan senang melihat anak-anak bisa melihat dan merasakan petualangan yang dekat dengan alam. InsyaAllah makin menambah cinta tanah air dan lebih bersyukur atas semua karunia-Nya. Amiin. Tips melihat matahari terbit di Bromo Pastikan semua sudah disiapkan malam sebelumnya, baju hangat/jaket, syal, topi, sepatu dan kaos kaki wajib dipakai. Sebenarnya suhu di Bromo sewaktu matahari terbit itu seperti suhu pagi hari di Puncak, tapi memang sedikit lebih dingin. Untuk Mas Hafiz yang memang tidak tahan dingin, perlu jaket lebih tebal. Bawa bekal makanan/minuman secukupnya. Biasanya travel menyediakan menu sarapan pagi kami mendapatkan roti tawar isi beberapa variasi. Di setiap lokasi Penanjakan dan kawah Bromo banyak dijumpai penjual minuman hangat, gorengan dan mie instan. Siapkan kamera, beserta cadangan baterai kalau perlu, sayang kalau sampai tidak mengabadikan keindahan alam Bromo. Untuk anak yang suka mabuk, siapkan fisik dan obat yang diperlukan. Mengingat jalur yang berkelok dan rusak parah, perlu diperhatikan kondisi fisik anak-anak. Selamat berlibur! Cerita pengalaman pribadi liburan ke gunung bromo bahasa jawa ini merupakan kisah Tuti yang sengaja dituliskan dalam buku diari. Cerita cekak ini dituliskan menggunakan bahasa jawa ngoko sebagai salah satu usaha untuk mencatat peristiwa di dalam kehidupannya. Monggo sami kita simak critanipun ing ngandap menika. “Kenalake jenengku Tuti, aku nduweni kanca sing paling tak banggakan sing nduwe jeneng Dian” Liburan sekolah wis teka nanging aku lan kancaku isih bingung arep liburan neng ngendi, “libur sekolah enake neng ngendi ya?” Takon aku marang kancaku. Dheweke njawab “enake mlaku-mlaku lan nggoleki kahanan anyar”. “Iya aku ngerti, nanging neng ngendi?” Takonku meneh marang dheweke, banjur dheweke njawabe “Ya kaya ta menyang gunung utawa menyang kebon/alas ngunu” Kanthi rai serius lan akhire aku oleh ide kanggo liburan menyang panggon sing becik lan kahanane kawah sing linuwih. Mesti pamasaran ta aku arep neng ngendi? Waos Ugo Kumpulan Pawarta Ndinan Terbaru Esuke aku lan kancaku sing nduwe jeneng Dian kuwi nuju menyang panggon kuwi, nanging kancaku kuwi isih durung reti panggon tujuan sing arep dituju, kepeksa aku ora ngandhanekne dheweke dhisik. hehemmm… yen tembung wong zaman saiki sih kandhane SURPRISE, sakwise meh nganti menyang panggon tujuan aku ngandhanekne jeneng panggon wisata sing tak tuju kuwi, kanthi rai seneng dheweke pitakon marang aku“panggon apa iki? Becik banget pemandangane lan udarane sejuk banget”. Aku kanthi bangga aku njawabe “Iki panggon sing tak ngen-ngen sajroning iki yaiku gunung Bromo” Ana buku ugo ditulisake pengalaman pribadi liburan ke gunung bromo bahasa jawa yen Kahanan alam sing becik, dalanan sing menggok-menggok, mawa udarane sing sejuk banget nggawe aku milih liburan menyang kene iki. Kanthi numpak montor aku lan Dina banjur anyak munggah menyang gunung bromo kesebut. Waos Ugo Cerita Cekak Bahasa Jawa Katresnan Sakwise sak jam kapungkur akhire nganti uga neng puncak Bromo, aku lan Dina banjur mudhun menyang padang pasir sing amba neng sekitar gunung Bromo, kanthi sethithik kendala yaiku ban montor sing sethithik kepleset mawa keblekok ngliwati padang pasir kesebut nanging semangat ku akhire nganti uga neng panggon parkir sing panggone tepat ana ing ngisor gunung Bromo Kanthi rasa ora sabar aku ro Dina banjur markirke montor, banjur mlayu menyang undak-undakan sing dihubungna sikil gunung bromo kanthi puncak Bromo Sakwise sekitar kurang luwih 10 menit munggahi undak-undakan kuwi akhire tekan neng puncak gunung Bromo, mung tembung sing terlintas neng benak kami yaiku “Bromo Apik Bangetttt” Ya tembung kuwi sing tak pikirke sanganti neng puncak Bromo kesebut, saka puncak kuwi aku lan Dian ndeleng pemandangan sing becik lan alami. Mawa aku uga bisa ndeleng apa sing ana neng sikil Bromo saka kene conthone kaya wong sing nunggang jaran utawa suku Tengger, banjur aku uga ndeleng montor sing tak parkir neng ngisor. Mangkene cerita pengalaman pribadi liburan ke gunung bromo bahasa jawa yang dituliskan oleh Tuti di dalam buku diary nya. Semoga bermanfaat. Advertisement

cerita liburan ke gunung bromo