cerpen jatuh cinta sama senior gila
JanganBilang Lo Jatuh Cinta? Cerpen Karangan: Lee Ghin Fhae Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan. Lolos moderasi pada: 4 February 2017 "pokoknya lo harus jadi cewek gue. Gue gak bakal tahan dengan semua cewek-cewek yang ngeganggu gue selama di sekolah nanti. Kau lo jadi cewek gue apapun mau lo bakal gue turutin deh, janji."
Jatuhyang kumaksud adalah 'Jatuh Cinta'. Indah rasanya, hingga aku lupa dengan keadaan sekitarku. Aku terlalu menikmatinya 'Kasmaran'. Kata yang sering digunakan oleh remaja saat ini. Sering aku tersenyum sendiri, melamunkan dirinya. Salah tingkah pun tak bisa lepas dariku bila dia berada di depanku. Ingin rasanya memeluk dirinya, tapi
CerpenJatuh Cinta. Ibumu, yang sejak tadi sibuk di dapur mengupas k Definisi cerpen cinta cerpen cinta adalah salah satu jenis cerpen yang dibuat dengan tujuan untuk menghibur para pembacanya dengan cerita yang mengandung unsur keromantisan, dan juga keharuan yang dialami dalam kisah percintaan. Lomba Menulis Cerpen Tema Jatuh Cinta oleh Star Aksara from Cerpen Jatuh
Cerpen Jatuh Cinta. Cerpen Sastra. Jatuh Cinta. April 21, 2021 April 21, 2021 7 min read triandira. Jatuh Cinta. Oleh : Ketut Eka Kanatam "Kenapa kamu belum menikah juga, Wahyu? Apa lagi yang membuat kamu terus menundanya? Tidak adakah gadis yang tertarik kepadamu? Apa jangan-jangan kamu tidak tertarik pada wanita."
CERPEN: BAGAIMANA AKHIRNYA AKU JATUH CINTA. Nama aku Adam Benjamin bin Adam Edward. Aku dilahirkan dalam keluarga yang langsung tak tahu apa-apa tentang Islam. Perkara yang asas itu tahulah, itupun rasa malas gila nak buat. Mama dan papa aku muallaf.
Welche Singlebörse Ist Kostenlos Für Frauen. Cerpen Karangan Nindi HwangKategori Cerpen Cinta Sedih Lolos moderasi pada 25 December 2014 Namaku Edwin seorang mahasiswa semester 7 berumur 20 tahun jurusan manajemen perkantoran di salah satu universitas ternama di kota ini. Aku masih tinggal satu atap dengan keluargaku. Aku akui aku memang salah satu anak dengan prestasi membanggakan di kampus, walaupun aku sebenarnya merasa sedikit risih dengan lontaran-lontaran pujian dari teman-temanku. Banyak yang bilang diriku ini sempurna, dengan mata onyx yang khas dan wajah oriental kulit putih serta perawakan yang tinggi besar, tak heran jika banyak gadis yang mencoba mengalihkan perhatianku. Aku hanya menganggap mereka biasa saja, aku tak terlalu menghiraukan mereka. Namun beberapa hari ini aku memperhatikan tetanggaku yang baru pindahan. Jelasnya ada seorang gadis yang selalu duduk di teras rumah atau duduk di ayunan di depan rumahnya ketika senja tiba. Aku merasa terpikat saat pertama kali aku berkenalan dengannya. Yang pertama kuperhatikan adalah matanya. Tak ada mata seindah matanya sebelumnya. Walaupun dia terkesan pendiam namun aku tau, dia pasti punya sisi lain tersendiri. Raina namanya. Indah bukan? Hmm aku tau aku tertarik padanya. Ada sisi dari dirinya yang berbeda. Hari ini akan kuputuskan pergi ke rumahnya untuk menjalin silaturahmi, atau bisa dibilang ini modus sebuah pendekatan hihiihi. Aku tau itu lucu tapi aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sendiri. Aku mengetuk pintu berharap seseorang membukakannya untukku. Benar saja, Bude Ari membukakan pintu, aku berbincang-bincang dengannya seolah aku ingin menjadi tetangga paling baik untuknya. Dan tak lama kemudian Raina datang dengan setelan baju putih. Aku suka selera fashionnya, dia terlihat glamour dan imut sekaligus. Wajah lembutnya seakan menyapu semua fikiranku. Aku menyukainya Tuhan, sungguh aku menyukainya. Dia mencoba duduk di sebelah Bude Ari masih dengan wajah datarnya. Bude Ari mencoba bertanya maksudku untuk datang kesini. Tentu saja aku gelagapan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh beliau. Seperti maling yang tak ingin ketahuan, aku menjelaskan pada Bude Ari bahwa aku hanya ingin menjalin silaturahmi seperti tujuanku sebelumnya. Raina sangat pendiam, namun di tengah-tengah pembicaraan dia mengulas senyum-senyum kecilnya yang membuat hatiku terasa sedikit sesak olehnya. “Raina masih kuliah?” Tanyaku membuka pembicaraan dengannya. Tapi tidak ada respons darinya, dia hanya diam. Aku tau, aku tidak boleh terlalu memaksanya dulu. Bude Ari akhirnya yang menengahi. Aku memberi coklat buatanku pada Bude Ari. Entah dari mana aku tau, tapi Raina sepertinya suka dengan coklat. Sejak hari pertama aku pergi ke rumah Raina aku menjadikan hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Awalnya Raina masih tertutup denganku walau mengatakan sepatah katapun. Tapi kini dia mulai mau berbicara denganku walaupun hanya sedikit dan dengan terbata-bata. Aku tau aku tidak boleh terlalu agresif dengan Raina atau aku akan kehilangannya. Setiap senja tiba dan aku sudah pulang kuliah, kusempatkan untuk menemani Raina duduk di ayunan depan rumahnya. Ada sesuatu dari dirinya yang aku ketahui tapi aku tidak tau apa itu. Walau kami hanya berbicara sedikit, bukan sedikit lagi, tapi sangat jarang lebih jarang dari sedikit, tapi aku selalu sabar dengannya. Aku tau dia akan berubah nanti. Kadang dia tidak menganggapku ada, dia hanya sibuk dengan tanaman di depan rumahnya. Ayah dan Ibuku tau hal itu, tapi mereka hanya diam saja. Aku juga tak pernah mengatakan hal apapun soal perasaanku dan soal Raina. Belum sekalipun aku seberat ini dan setegar ini pada seorang gadis. Aku tak tau mengapa, tapi dalam diriku ada suatu alasan yang tak kumengerti dan tak bisa kujelaskan. “Bunga mawarnya bagus ya?” Kataku membuka sedikit pembicaraan Lagi-lagi Raina menyunggingkan senyumannya yang kadang-kadang terkesan datar. “Iya, bunga mawar memang indah” Katanya menjawab Terkadang hatiku terasa pilu dengan semua ini. Namun, aku tau aku tidak boleh salah bertindak atau akan fatal. Sabarkan aku Tuhan. Hari ini aku menerima pesan dari Om ku yang ada di Surabaya, dia berkata jika disana ada proyek dan aku diajak olehnya. Ini sebuah kesempatan besar, gumamku dalam hati. Namun di lain tempat ada sesuatu yang berbisik jika aku tidak mau kehilangan satu hari pun bersama Raina. Aku sangat bingung mana yang harus aku lakukan dan mana yang tidak harus aku lakukan semua ini sangat bertentangan. Aku sangat bingung, di sisi lain aku ingin masa depanku yang cerah dan di sisi satunya aku tidak ingin kehilangan Raina. Kuputuskan untuk berbicara dengan Raina hari ini. Kebetulan dia sedang membaca novel seperti biasanya di ayunan depan rumahnya dengan segelas teh rosella hangat yang biasa dia buat sendiri. Lagi-lagi aku sempat terpesona melihatnya. “Raina sendirian?” Aku memulai pembicaraan Dia membalas dengan senyum datarnya lagi “Aku hanya ingin bicara, selama empat bulan kedepan aku akan pergi ke Surabaya untuk suatu proyek” Kataku sambil memperhatikannya Dia menengok ke arahku, seperti tidak percaya atau menatapku seperti mencari sebuah kebohongan aku tidak dapat menjelaskannya secara rinci tatapannya. Dia memang gadis yang sangat misterius. Namun sedikitnya aku bisa melihat raut kecewa di wajahnya. Sesaat kemudian dia kembali menekuni bukunya dan sedikit mengangguk. “Itu bagus” Katanya singkat, namun jelas bisa menjelaskan nada kecewa di dalamnya. “Ini hanya sebentar, aku akan berangkat empat hari lagi dan aku akan pulang empat bulan mendatang” Kataku Cukup lama aku me nemaninya duduk disini, tanpa kusadari hari pun sudah gelap kira-kira pukul 8 aku pulang. Kulihat Raina ketiduran di ayunan. Kutatap lekat wajah sempurna itu dengan teliti. Kuringkukan tubuh kecil Raina ke dalam pelukanku, kumaksutkan untuk menjaga tubuhnya dengan kehangatan. Kuberanikan diri untuk memeluknya karena aku yakin Raina sudah tidur dengan lelap. Kurasa ini sudah malam. Aku menggendongnya, bermaksud untuk mengantarkan ke kamarnya. “Bude Ari, Raina ketiduran boleh aku antar dia ke kamar?” aku meminta ijin. “Tidak usah repot-rept dek Edwin, Raina suka tidur di kasur dengan TV kamu antar dia kesana saja, di lantai dua” Kata Bude Ari Oke, aku mengantarnya ke lantai dua. Aku menaruh tubuh kecil Raina dia atas kasur. Lagi-lagi aku terpesona akannya. Aku mencium keningnya dan membenahi selimutnya dan aku turun dari lantai dua kemudian berpamitan dengan Bude Ari untuk pulang dan berterimakasih. Aku akan berangkat ke Surabaya lusa dan orangtuaku sangat mendukungku. Setelah kejadian hari itu, aku tidak pernah lagi melihat Raina duduk di ayunan depan rumah. Kecewa sebenarnya, aku tanya pada Bude Ari kata beliau Raina sedang berkonsentrasi menulis novel di kamarnya dan tidak ingin diganggu. Oke aku hargai itu. Tapi ini adalah hari terakhir aku disini dan siang ini aku akan berangkat ke Surabaya. Namun sampai berangkat pun aku tidak menemuinya walau untuk melihat senyum indahnya sekilas saja. Baiklah Tuhan aku akan kembali kesini dengan kesuksesan untuk melamar Raina. Aku yakin itu. 4 Bulan kemudian… Hari ini aku pulang dari Surabaya, proyekku dan Omku sukses besar. Selama di Surabya sedetik pun pikiranku tak pernah lepas akan Raina. Aku semakin mencintainya. Saat seperti ini aku baru merasa bahwa aku memang sangat mencintainya. Setelah pulang dan membersihkan diri di rumah aku langsung pergi ke rumah Raina. “Ibu aku pergi ke rumah Bude Ari dulu ya” Kataku langsung berjalan dengan sedikit berlari ke rumah Raina dengan membawa sejuta harapan serta sebuah cicin berlian yang sempat kubeli untuk menyatakan cinta padanya. Dan ibuku hanya diam saja. “Bude Ari Raina dimana?” Kataku dengan Hening yang kudapat. Kucoba untuk bertanya lagi. “Bude Ari tolong jawab aku dimana Raina?” yang kudapatkan bukanlah sebuah jawaban, namun air mata dari Bude Ari. Kuedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan rumah Bude Ari. Dan aku temukan dengan jelas sebuah foto yang aku tau pasti itu adalah foto Raina. Tapi tunggu dulu, kenapa di foto itu ada rangkaian bunga? Apa yang terjadi? Sekali lagi aku mencoba bertanya pada Bude Ari “Bude Ari tolong sekali lagi jawab aku, kemana Raina Bude??” Aku sedikit menggoyangkan tubuh Bude Ari. “Maafkan Bude nak Edwin, Raina sudah pergi, dia sudah kembali pada yang Maha Kuasa” JEDERRRRR Bak petir yang menyambar bumi, hatiku runtuh satu persatu dari tempatnya. Keyakinanku hancur seperti piring yang dipecahkan. Dan aku tak bisa memahami ini. Aku meruntuki semua kesalahkanku atas apa yang terjadi. Aku tertunduk meratapi semua ini, aku tak tau harus berbuat apa. Aku arghhhh, aku marah pada semuanya. Aku menagis di antara kepedihan ini. Aku tak percaya Raina sudah tiada, aku tak percaya. Oh Tuhan kenapa saat aku mulai jatuh cinta kau malah menghancurkan semuanya? Kenapa? Beberapa saat setelah semua nyawaku mulai terkumpul lagi, Bude Ari menjelaskan semuanya padaku. Kenapa semuanya terjadi. Mulai dari kulkas, aku diajaknya menuju kulkas. Dibukanya pintu kulkas itu, dan betapa terkejutkanya aku, kulkas itu penuh dengan tumpukan kotak coklat yang sangat aku kenali. Semua itu adalah coklat pemberianku. Aku tak percaya Raina menyimpannya dengan rapih disini. “Raina suka dengan coklat nak, tapi dia tak pernah sedikitpun memakan bahkan menyentuhanya sekalipun. Dia tak ingin coklat buatanmu yang berharga ini hilang dia makan begitu saja” Kata Bude Ari menjelaskan. Setelah itu Bude Ari mengajakku ke kamar Raina. Dan sungguh aku sangat terkejut demi apapun. Sungguh jelas di kamar itu terpasang berbagai foto-foto dengan 2 orang yang berbalut seragam SMA. Aku sangat mengenali wajah itu, itu Raina. Tunggu dulu, siapa laki-laki disana? Kenapa mirip sekali denganku? Tuhan apa arti semua ini? Tiba-tiba kepalaku pening dan sakit. “Kau tidak apa-apa kan nak?” Kata Bude Ari “Kau dan Raina memang sepasang anak manusia yang tak bisa dijauhkan walau kalian saling menghindari. Kau mungkin tidak akan pernah mengingat bagaimana semua foto-foto ini bisa ada. Karena kau amnesia” Kata Bude Ari menjelaskan. Aku bingung sumpah demi apapun aku masih bingung dengan semua ini. “Kau dan Raina adalah sepasang kekasih semenjak masih di bangku awal SMA, kalian selalu bersama kemana-mana. Kalian layaknya sudah berjodoh. Tapi Tuhan berkata lain, kau mengalami kecelakaan yang membuat ingatannya tidak akan pernah kembali. Dan parahnya Tuhan memberikan Raina cobaan dengan divonis mengidap kanker Otak yang ganas. Raina shock dan tak percaya dengan semua ini, kemudian kami pindah ke kota lain demi menghindarimu. Namun sungguh lagi-lagi Tuhan berkata lain, kami harus pindah kesini lagi karena tempat tinggal kami disana tersapu bencana alam. Itulah sebabnya dia selalu diam jika bertemu dengan mu atau dengan orang lain. Dia memendam kesedihan yang amat dalam. Dan taukah engkau nak Edwin, dia masih menggenggam erat cintanya padamu sampai akhir hayatnya” Jelas Bude Ari panjang lebar. Lengkap sudah penderitaanku Tuhan, aku baru tau kenapa Raina bersikap tertutup selama ini. Aku merasa amat bersalah. Maafkan aku Tuhan. Ampuni aku. Esoknya aku pegi menuju pusara Raina. Aku berharap Raina akan tersenyum indah disana, dia akan lebih bahagia di sisi-Nya. Aku percaya itu. “Ini buku novel untukmu nak Edwin, dia menumpahkan semuanya disini” Kuterima sebuah novel yang cukup tebal dan tak asing bagiku berjudul Love and Hurt’ by Raina, aku baru tau itu novelnya. Padahal itu adalah novel best seller selama aku di Surabaya. Sungguh terlambatnya aku Tuhan. — “Raina kesini ayo jangan jauh-jauh” Aku memanggilnya “Iya papah bentar Raina mau sepedahan bareng sama temen-temen” Katanya dengan senyum “Pah biarin Raina, dia udah besar” kata istriku Aku tersenyum melihat putriku yang semakin besar. Kuberi nama dia Raina agar aku tak akan pernah lupa dengan senyuman yang mempesona itu. Raina, terimakasih atas cintamu, pengorbananmu, perasaanmu. Terimakasih atas semuanya. Cerpen Karangan Nindi Hwang Twitter NindiHwang Cerpen Ketika Cinta Datang Terlambat merupakan cerita pendek karangan Nindi Hwang, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Mawar Merah Ternoda Oleh Alfred Pandie Kamar kosong dengan laptop menyala lagu padi -kasih tak sampai ku biarkan mengiringi kepedihan hatiku, entah apa yang ku rasakan kini, entah apa yang ku gores dengan penah di Remah Remah Kenangan Oleh Dita Ayu Maharani Barangkali aku ingin mengatakan beberapa hal kepadamu. Kita, duduk berhadapan, bersitatap satu sama lain. Mengurai kembali tali yang terputus, merampungkan kisah yang bagiku terlalu gamang. Namun aku memimpikan kebersamaan LDR Oleh Elfina Astin Jenny, seorang cewek SMA yang berambut panjang dan berhidung mancung itu kerap disapa Jen oleh teman-teman sebayanya. Jen masuk sekolah SMA dengan tujuan mencari ilmu dan mencari pengganti Jono, My Love Story Oleh Indah P. Lestari “Biar ku sudahi saja perasaan ini, secara perlahan” gumanku dalam hati seraya mengusap tetesan air mata yang sudah membasahi pipiku. Mencoba bangkit dari rasa terpuruk akibat cinta yang berdusta. Give Me a Reason Part 1 Oleh Upriani Rahman Purnama belum sempurna menggantung di hamparan lagit bersama ribuan bintang yang berkelip. Aku menengadah mengamati gelap malam yang ditaburi benda-benda lagit yang indah. Udara dingin yang menyapu kulit bercampur “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Saya mengenal wanita ini sejak masih di sekolah menengah atas. Dia teman sekelas saya saat di kelas sebelas. Boleh dibilang wanita ini adalah cinta pertama saya. Dan saya juga berharap kelak dia akan menjadi yang terakhir. Saya sudah telanjur cinta dia. Sangat. Meski kadang-kadang dia agak lain dari kebanyakan orang. Kadang-kadang dia jadi sangat posesif. Dan kadang-kadang pula dia bisa marah hanya karena hal-hal yang saja, pernah suatu kali wanita ini memarahi saya sebab saya memotong kuku pada hari Sabtu. Dia bilang hal itu tidak baik. Karena memotong kuku di hari Sabtu akan membuat saya nanti mati dan menjadi hantu, kata dia lagi. Sampai-sampai dia marah besar, sampai-sampai dia membuang pemotong kuku saya ke sungai. Dia bilang almarhumah ibunya yang mengatakan hal yang demikian itu apabila saya memakai parfum, dia pasti akan marah betul pada saya. Saya tidak tahu jelas apa penyebabnya. Tapi kata dia, orang-orang yang memakai parfum adalah termasuk orang yang tidak percaya diri. Dan dia sangat benci apabila saya tidak percaya diri. Wanita ini, saya akui, tidak terlalu cantik. Wajahnya biasa saja. Agak bulat. Tidak putih juga. Hidungnya tidak mancung. Hanya saja perangai dia memang elok dan dia termasuk orang yang sangat disiplin. Sudah lima tahun sejak kami lulus sekolah menengah atas itu, dan terhitung hampir tujuh tahun kami menjalin hubungan. Pasang-surut, pasti. Tapi saya dan dia berkomitmen untuk memperjuangkan cinta kami ini sampai ke saya lulus sekolah, saya langsung mencari kerja dan mengumpulkan uang untuk meminang wanita ini. Sedang dia di rumah saja, dengan nyaris tujuh tahun sudah, tapi belum sekali pun saya dipertemukan wanita ini dengan ayahnya yang katanya bekas dokter itu. Kata dia, ayahnya teramat pemarah. Kata dia lagi, ayahnya tidak suka apabila anaknya pacaran hanya untuk dipermainkan. Jawaban dia selalu begitu apabila saya menyinggung masalah orangtuanya, lebih tepatnya ayahnya. Sebab ibunya telah cukup lama tiada. Jadilah saya merasa ciut untuk menemui ayahnya tanpa bekal berupa jawaban kesiapan untuk menjadi suami anaknya. Hari ini saya bermaksud mengajak wanita ini berjumpa di tempat kami biasa bertemu, di kursi panjang dekat taman kota, untuk membicarakan pertemuan dengan ayahnya tersebut. Saya berniat untuk bertemu dengan ayahnya. Untuk menyatakan keseriusan saya. Bahwa saya ingin mempersunting berjanji akan datang pukul tiga sore tepat. Tapi sudah sepuluh menit berlalu, dia belum datang juga. Sependek yang saya tahu, biasanya dia tidak begini. Atau barangkali dia sedang ada kesibukan."Sudah menunggu lama?" Suara seseorang dari belakang punggung saya terdengar, sambil dia menutup mata saya dengan kedua tangannya. Agak keras sampai saya merasa sedikit kesakitan. 1 2 3 4 5 6 Lihat Cerpen Selengkapnya
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. [caption id="attachment_173081" align="alignleft" width="300" caption="picsourcegoogle"][/caption] Love as addictive as cocaine neuroscientists Tulisan ini sebagai awal rasa penasaran tentang abstraksi bernama cinta. Klasik karena banyak karya yang ramai dengan tema-temaini dan orang-orang seduniapun tak bosan membahasnya. Tapi saya anggap ini sebagai penjelasan logis akan “keritingnya” mata, berpacunya adrenalin ketika setiap waktu menyempatkan mengamati perilaku manusia dalam realita dengan permasalahan kompleks yang ujung-ujungnya kalau bukan masalah cinta ya duit. Woow, begitu dahsyatnyakah pengaruh cinta sehingga seorang bapak pergi dari keluarga demi gadis yang belum cukup umur, seorang ibu yang meninggalkan anak-anaknya demi cinta seorang pengusaha kaya, seorang suami yang menceraikan istrinya karena tak bisa memberi keturunan, seorang istri yang enggan dipoligami, seorang gadis yang bunuh diri karena cintanya ditolak, pemuda yang gila karena ditinggal kekasihnya, pejabat X yang rela menilep uang Negara demi investasi di Bank Swiss, para Hooligan yang keranjingan dan fanatik dengan pertandingan sepakbola, fans artis film top hingga merchandisenya penuh seisi rumah dsb. Cinta, membuat seseorang berani menempuh resiko yang tak dapat dibayangkan. Jika seseorang jatuh cinta, semua zat kimia dalam tubuh terutama dopamin dan oksitoksin dalam otak mengalami fluktuasi. Ini menjelaskan mengapa orang jatuh cinta dapat melakukan apa saja yang dalam situasi normal tidak mungkin dilakukan. Dada bergemuruh, denyut nadi bertambah, napas memburu. Dalam keadaan jatuh cinta, kita menjadi sangat obsesif, akibatnya sulit tidur, pikiran terfokus pada pasangan dan apa saja akan dilakukan untuk bisa dekat. Tidak heran orang yang sedang jatuh cinta ibarat terkena gena-guna. Ia melakukan apa saja atas nama cinta. Tapi taukah kita bahwa jatuh cinta membara memiliki fenomena kimiawi yang sama dengan penyakit jiwa bernama OCD-Obsesive Compulsif Disorder? Perasaan jatuh cinta dianggap menurunkan kadar serotonin substansi kimia di otak yang membuat kita merasa tenang dan damai. Jika serotonin turun sampai level terendah, maka andakemungkinan mengidap OCD. Monatella Marazitti, professor psikiatri dari universitas Pisa Italia melakukan penelitian untuk membandingkan kadar serotonin zat kimia yang diproduksi otak pada 24 orang yang jatuh cinta dalam 6 bulan terakhir dengan para penderita OCD dan orang yang tidak kasmaran atau mengalami OCD. Ia menemukan bahwa kadar serotonin pada orang jatuh cinta dan penderita OCD turun hingga 40% dibawah normal. Dengan kata lain, orang yang jatuh cinta memiliki gejala yang sama dengan penderita OCD. Walaupun tidak dikatakan eksplisit, tetapi dapat disimpulkan dari riset ini bahwa orang yang jatuh cinta menjadi sangat tidak rasional dan kehilangan nalar yang kritis seperti halnya penderita gangguan jiwa. Masuk akal jika ada kisah romantis Julius Caesar yang ketika jatuh cinta pada Cleopatra mengabaikan banyak masalah negara dan politik. Helen fisher, peneliti lain yang menggunakan MRI Magnetic Resonance Imaging yang memungkinkan melihat otak hidup, menemukan bahwa pada orang jatuh cinta, bagian otak bernama Ventral Tegmental Area dan Nucleus Caudatus menjadi lebih aktif. Mereka memproduksi zat kimia bernama Dopamin yang berperanan penting-seperti halnya keadaan yang dialami para pecandu obat terlarang dan para perokok—dalam mekanisme rewardimbalan. Mekanisme reward ini memaksa seseorang untuk menikmati lagi dan berusaha memperoleh lagi perasaan tersebut. Ada kenikmatan dan kesenangan disitu sehingga harus mengulang. Jatuh cinta memang nikmat dan ada kecenderungan untuk mengulanginya dengan segala resiko. Pleasure feelings yang dirasakan ketika jatuh cinta adalah peran dopamin. Dopamin adalah senyawa yang berperan sebagai neutransmitor dan perkursor terbentuknya senyawa lain. Dopamin merangsang terbentuknya norepinephrine –seperti halnya adrenalin- meningkatkan detak jantung dan berperan penting memberi rasa senang, tenang, nyaman dan ketagihan serta bertanggungjawab menentukan pengambilan keputusan. Bersama rendahnya kadar serotonin yang menyebabkan rasa obsesif, dopamin memberi efek membahagiakan, meningkatkan energi, menurunkan nafsu makan dan mengurangi konsentrasi. Sedangkan norepinephrine identik dengan peningkatan atensi, memori jangka pendek, hiperaktivitas, susah tidur dan perilaku yang berorientasi pada tujuan tertentu. Substansi tersebut akan menstimulasi peningkatan kemampuan dalam mengingat sesuatu. Kini jelaskenapa tiba-tiba kita punya kemampuan super, fokus pada hal-hal secara mendetail tapi ingatan tersebut hanya berlaku bila berkaitan dengan orang yang dicintai. Begitu kuatnya kekuatan otak untuk memperhatikan, sampai hal-hal lain hanya akan mendapatkan sisa perhatian. .Tetapi, hati-hati, karena jatuh cinta itu berbahaya. Kabar buruknya, perasaan bahagia bernama cinta terkadang bisa menjadi racun. Kelebihan dopamin di sistem limbik otak kita justru dapat menyebabkan paranoia dan kenekatan. Pasalnya jatuh cinta menyebabkan penurunan aktivitas pada amygdala atau bagian otak yang membuat anda memiliki perasaan takut. Itu sebabnya kita kerap punya kecenderungan bersikap nekad saat sedang jatuh cinta. Contoh-contoh yang saya sebutkan diatas adalah buktinya. Selain itu ada sesuatu yang kurang menggembirakan dari gelora cinta itu. Perasaan cinta membara terhadap lawan jenis adalah perasaan yang tidak dapat berlangsung lama dan cepat hilang. Sejumlah peneliti yakin, setelah kurun waktu tertentu bervariasi antara 18 bulan sampai 4 tahun tubuh kita jadi terbiasa dengan stimulan cinta ini. Tubuh akan beradaptasi terhadap reaksi disekitar maupun didalamnya. Lambat laun akan membentuk semacam toleransi. Dampaknya bercabang pada dua kemungkinan lebih terikat dan berkomitmen untuk setia pada pasangan atau putus. Inilah sebabnya mengapa 18 bulan hingga 4 tahun pertama pernikahan dianggap sebagai masa krusial. Karena itu motivasi terbaik dari pernikahan adalah cinta yang diberi pupuk dengan spiritualitas. Tumbuhkanlah cinta membara tapi bingkailah cinta kita dengan iman maka itulah yang membuatnya tak lekang zaman.. Beberapa terapi untuk mengendalikan gelora cinta. 1. Tidak mau dicap sebagai penderita OCD hanya karena obsesif dan perfeksionis terhadap sesuatu? Berarti serotonin, senyawa kimia dalam otak anda bermasalah? Cobalah Makan pisang. Pisang merupakan sumber vitamin B6 yang dibutuhkan untuk membuat serotonin didalam otak. Serotonin berfungsi mengurangi rasa sakit, menekan nafsu makan, mengurangi ketegangan dan membuat rileks. 2. anda tipe pecinta yang moody? Cobalah mengatur perubahan mood cinta dengan berolahraga. Penelitian terbaru menunjukkan bila anda berlatih cardio secara rutin, akan dapat meningkatkan efek dopamin sekaligus menambah endorphin yang akan membuat anda tetap waras. Endorphin adalahzat kimia penghilang stress yang secara alami diproduksi tubuh. Jadi berolahragalah secara rutin 3 x seminggu maka kepala anda akan selalu bisa berpikir jernih 3. Makanlah Coklat. Penelitian terakhir menunjukkan Dopamin dapat distimulus dengan coklat yang bisa memacu produksi endhorphin yang memiliki sifat disinhibsi tidak menghalangi/meningkatkan/meneruskan terhadap produksi dopamin. Jadi mampu menimbulkan perasaan tenang, nyaman dan bahagia cocok untuk terapi mereka yang dalam keadaan underpressure. Coklat, bisa kita logikakan dengan sains dapat mempengaruhi dopamin, tapi bagaimana dengan jatuh cinta? Bagaimana bisa mempengaruhi dopamin? Ungkapan “Cinta datang dari mata turun ke hati” benar adanya. Ketika kita melihat atau bertatapan dengan lawan jenis, ada sinyal-sinyal tertentu yang dipancarkan oleh gelombang cahaya melalui mata dan jika itu terjadi sinkronisasi antara keduanya, dapat berubah menjadi sinyal yang menstimulus dopamin. Karena itu seorang utusan Tuhan 15 abad lalu telah mengajarkan umatnya salah satu cara menterapi hati dengan menjaga pandangan ghadhul bashar. Hal itu juga berlaku untukdua orang yang berdekatan dalam jangka yang lama, biasanya feromon keduanya bisa menyambung dan sinkron. Sinkronisasi itu juga yang jadi stimulus peningkatan dopamin di otak. So sekali lagi hati-hatilah dengan cinta. note -OCD- kelainan berupa kompleksitas dimana pengidapnya tergila-gila akan kesempurnaan dan keteraturan Lihat Pendidikan Selengkapnya
Cerpen Safik Yahida Cerita ini saya tulis ketika sedang berada di halte menunggu bus kota sumedang, dan disitulah saya mengobrol dengan seorang perempuan setengah tak waras yang setiap harinya setia menunggu tunangannya yang pergi meninggalkannya entah kemana Tangan ini masih sedikit luka oleh bekas lilitan tali yang menjeratku juga mulutku pun terasa kaku karena di sumpal kain sekian lama sehingga tidak bisa berteriak tapi tidak pada suara hatiku yang masih bisa berdoa supaya apa yang mereka lakukan padaku akan dibalas dengan hukuman yang setimpal atas semua penderitaan yang telah mereka lakukan padaku dengan sebuah alasan atas nama kebaikan aib keluarga mereka menyekap dan membiarkan aku terkapar di sudut kamar yang gelap. Apa aku ini di mata mereka? Apa aku bukan lagi bagian dari keluarga mereka karena kelakuanku kurang baik yang selalu menjambak rambut setiap wanita yang kutemui? Seperti apakah orang yang baik itu? Apakah orang yang pernah mengurung seseorang bisa disebut orang baik? Bukan. Di kamar yang gelap itu aku selalu bertanya dalam hati kenapa mereka mengurungku? Apa yang salah pada diriku sehingga mereka merasa takut dan menjauhiku? Apa mereka menganggapku gila hanya karena selalu tersenyum sendiri dan setelah itu langsung menangis? Bukankah senyum itu amal paling murah yang oleh semua agama merasa diharuskan dan menangis itu hakikat manusia yang tidak bisa dilepaskan? Atau karena aku satu-satunya orang yang percaya bahwa gerimis itu bisa turun di saat musim kemarau? Nyatanya di musim yang panas ini gerimis selalu turun di mataku. Mungkin karena hal itulah sampai sekarang aku masih belum mendapatkan jodoh atau mungkin juga karena memang semua wanita merasa takut padaku? Yang jelas aku bukanlah lelaki yang gampang jatuh hati pada seseorang sebab aku menginginkan wanita yang setia tidak seperti kekasihku dulu yang selalu mengatur hidup ini kemudian pergi meninggalkanku begitu saja dan akhirnya membuat hatiku hancur melebihi rasa sakit ketika terkurung di waktu lalu dan mungkin karena ulah kekasihku itulah awal dimana aku pun dijauhi pula oleh orang-orang karena tanpa henti aku selalu menangis. Aku ingin bebas seperti sekarang bisa leluasa pergi dan duduk di bangku taman sambil dengan tenang menikmati hembusan angin malam yang membelai rambutku seperti dulu ketika aku pernah tertidur di pundak kekasihku sambil ia sesekali membelai helaian rambutku ditemani rembulan yang ikut menyaksikan kami berdua. Indah sekali saat itu karena di pikiranku hanya ada bayangan kekasihku itu tidak ada siapapun atau mungkin semua orang telah kulupakan meski aku tak tahu hilang dimana ingatanku itu sehingga kini membuat aku merasa takut pada semua orang dan yang kurasakan sekarang aku selalu ingin menjambak rambut setiap wanita yang kutemui sambil berkata apa kamu tidak merasa sakit ditinggalkan kekasih sendiri tanpa alasan yang jelas? Memang bukan kamu yang melakukan hal itu padaku tapi kurasa kamu pun akan melakukan hal yang sama. Teriakku. Memang hidup ini singkat terlalu singkat bila hanya digunakan untuk mengingat masa lalu yang kelam dan sekarang aku merasa hidup kembali dengan jiwa yang baru setelah kabur dari kurungan yang menjeratku. Akhirnya aku kembali ke taman ini sebuah tempat dimana aku dan kekasihku dulu selalu menghabiskan malam tanpa ada yang mengganggu mungkin saja aku bisa kembali bertemu dengannya disini dan meluapkan perasaan kesal yang selama ini berkecamuk di hatiku yang hancur teapi nyatanya dari balik pepohonan yang rindang aku mendengar seorang wanita yang lain sedang bernyanyi dengan lirik-lirik yang membuat merinding dan suaranya begitu merdu seperti salah seorang penyanyi yang lagi sibuk disorot berita infotainment karena bisa menjadi pacar seorang pencipta lagu cinta yang menyayat hati. Tidak. Bukan seperti suara penyanyi itu karena aku belum pernah mendengar suara aslinya sebab ketika ia menyanyi hanya menggunakan trik Lip Sync sambil berkomat-kamit mengikuti lirik dan irama lagu. Seperti orang gila saja. “Aku kembali mengingatmu di sisa gerimis Diantara punggung batu yang mengukir namamu Disitulah, kenangan kita telah terpahat Atau pada daun kering bagaikan selembar surat Yang menuntaskan sebuah jejak ziarah Aku telah menuliskannya sehabis gerimis Lalu menjadi abadi di kedua mataku Aku rindu bersamamu, menyulam ribuan malam dengan tatapan tajam, Namun maut memutuskannya, menjelma sabit membuat matamu terpejam. Untukmu, aku rela bersetubuh bersama angin Dengan dingin yang kucicipi nikmatnya sepi Dan bila kau tak kembali Aku menjema doa untuk menemuimu”[1] Karena mendengar suara yang seperti keluar dari lubuk hatinya itu aku memberanikan diri mendekati wanita itu dan duduk bersebelahan dengannya. Keberanian dan kebaikan apa hingga aku tidak menjambak rambutnya malah bertanya dan ingin mengetahui siapa ia sebenarnya. “Sedang apa dan menunggu siapa kamu disini?” tanyaku sambil melihat tatapan matanya yang kosong seperti pikiranku yang juga kosong karena aku bisa berani mendekati seorang wanita. Dia hanya diam. “Apa kamu sedang menunggu kekasihmu?” tanyaku lagi meminta jawaban. “Kamu pun sedang apa disini?” ia pun melontarkan pertanyaan. Apa yang ia pikirkan sehingga pertanyaanku tidak dijawabnya malah balik bertanya. “Aku sedang mendengarkan suaramu,” jawabku singkat. “Apa kamu gila datang kesini hanya untuk mendengarkan suaraku.” jawabnya. Tanpa pikir panjang lagi aku pun langsung mengutuknya supaya ia pun menjadi gila karena mengatakan aku gila padahal aku sama dengannya sedang menunggu kekasih yang entah sedang berada dimana sekarang. “Aku juga sama denganmu sedang menunggu seseorang disini,” timpalku dengan nada mengejek bila aku gila pun aku tidak peduli yang penting ada yang mau sama nasibnya denganku. “Aku tidak sama denganmu aku hanya seorang wanita yang dijauhi orang-orang bahkan dicemooh oleh mereka dan hanya kamu saja yang mau mendekatiku sekarang apa memang kamu benar-benar sama denganku?” Jujur aku tidak mengerti apa yang diucapkannya apakah nasibnya sama seperti yang pernah aku alami beberapa waktu terakhir dijauhi dan dibenci semua orang dan apakah hatinya pun sama hancurnya dengan hatiku karena ditinggalkan kekasih begitu saja? Tapi nyatanya ia sedang menunggu kekasihnya disini. “Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan bukankah kamu sedang menunggu kekasihmu disini? Kekasihmu pasti ingin menemuimu lalu kamu anggap apa kekasihmu itu bila orang-orang tidak ingin menemuimu?” mungkin karena melihat wajahnya yang sedih aku pun lalu bisa mengatakan hal yang seperti itu. “Bagaimana bila kekasihku tidak sama seperti orang-orang? Apakah kekasihku bisa disebut beda dengan mereka?” pertanyaan itu muncul dari bibir mungilnya dengan menghembuskan aroma nafas yang begitu khas di hidungku. Aku tidak menjawab pertanyaan wanita itu aku malah kembali teringat kekasihku dimana ia pun pernah mengatakan hal yang serupa seperti ini. Aku tahu ia menerima cintaku karena dulu aku selalu menghiburnya sewaktu sedang dilanda kesedihan karena kekasihnya telah tiada―mati akibat kecelakaan lalu lintas dan mungkin dengan dia menerimaku rasa terimakasihnya sudah bisa terbalas dengan kebohongan yang telah lama kita jalani. Seperti paranoid atau dejavu hal itu kembali terulang sekarang apa kekasih wanita ini sudah tiada dan ia tetap setia menunggunya walau tidak akan datang? Sungguh setia wanita ini tidak seperti kekasihku setelah puas mempermainkanku lantas ia pergi begitu saja dan hanya meninggalkan luka yang membuatku terjatuh. “Pergi saja kamu dari sini kekasihku sudah datang.” ia kembali bicara tanpa terlebih dahulu menunggu jawabanku. Otakku memang sudah bingung tapi dengan keadaan seperti ini aku malah tambah bingung bila aku tidak menjawab pertanyaannya bukan berarti aku tidak peduli padanya malah sekarang ia yang tidak peduli dan berani mengusirku dengan alasan kekasihnya sudah datang padahal tak ada. Tak ada namun ada. Ada namun tak ada. Ada atau tidak ada tetap ada. Begitu katanya. Berarti maksud dari ucapannya barusan benar bahwa kekasihnya sudah tak ada dan inikah yang di maksud dengan kekasihnya beda dengan orang-orang? Ternyata kekasihnya sudah bukan lagi orang melainkan sesuatu yang telah tak ada―mati. Aku tidak menjauhinya karena aku ingin menemani dan menggantikan kekasihnya yang tak ada itu. Ah sungguh setia sekali ia seperti wanita yang aku harapkan walaupun ia berbicara dengan angin seolah-olah sedang berbicara dengan kekasihnya dan tidak menganggapku ada tapi aku tak peduli aku hanya terus mengamati gerak-gerik wanita itu dan ia terus saja berbicara sambil diiringi selingan tawa seperti seorang yang baru melepaskan kerinduan yang telah lama belum tertuntaskan dan aku pun ikut tertawa tanpa tahu kenapa aku harus tertawa. Namun rasa kesalku pun belum tertuntaskan pada kekasihku dulu sehingga kulampiaskan saja kekesalan itu kepada seorang penjaga taman dengan menjambak rambutnya karena lelaki tua itu bilang padaku untuk menjauhi wanita itu karena ia sudah gila dan sudah lama selalu berbicara sendiri di taman ini. Akhirnya si penjaga taman itu pun mengatakan dan menganggap bahwa aku juga gila. Sekarang aku tidak peduli lagi dengan omongan orang-orang mau mengatakan apa yang jelas aku tidak ingin jauh dari wanita yang baru kukenal ini karena kesetiaan cinta pada kekasihnya yang ada namun tak ada itu sehingga telah membuatnya menjadi seperti itu. Cinta memang gila dan aku pun mulai jatuh cinta dan tergia-gila padanya. Dan kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang gila? Apa memang aku benar-benar gila? Entahlah. Bandung, Juni 2011 [1] Diambil dari puisi Ihsan yang berjudul “Sehabis Gerimis” dan puisi itu dibukukan dalam antologi bersama dengan judul buku Nyanyian Anak Negeri Pustaka Adab, 2011.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tampak seorang pria tengah duduk di sebuah ruangan yang sangat berantakan. Buku-buku dan beberapa pakaian berserakan dimana-mana. Sinar matahari pun tak mampu menembus ruangan itu, sunyi.. sepi... gelap.. dingin.. hanya ada lampu duduk yang meneranginya. Lagi pun ruangan itu kedap suara sehingga menambah kesan horor dalam ruangan pria itu tampak begitu fokus tanpa mempedulikan mirisnya keadaan ruangan yang sedang ia tempati. Dia hanya sibuk dengan sebuah laptop yang sedang ia mainankan. Suara ketikan demi ketikan terdengar begitu cepat. Seperti kilat yang saling menyambar begitu pula paragraf demi paragraf mulai mencuat kepermukaan layar. Rambut yang berantakan dan pakaian yang lusuh membuatnya terlihat seperti gelandangan.“Sedikit lagi,..... Ayo ayo ”. ucapnya Suara ketikan terdengar begitu cepat.... “Yess... akhirnya selesai juga”. Tampak ia menutup laptopnya dan segera berangkat ke tempat kerjanya di sebuah perpustakaan di pusat kota. Seperti perpustakaan lainnya, suasanya pun tak jauh berbeda sepi, hanya beberapa orang yang berkunjung dan membaca buku. Tugasnya pun tak begitu sulit hanya menjaga dan duduk di meja informasi saja.“Permisi... Mas ? Mas???” Seorang perempuan mengalihkan fokusku.“Ooohh iiyaaa... Ada apa mbaa?”. “Saya mau mengembalikan novel yang saya pinjam”. Jelasnya“Nama mbak nya siapa ya? Dan kapan meminjam bukunya?”. Tanyaku“Nama saya Alma Nadira, hmmm kapan yah lupa lagi... hmmm kemarin lusa tanggal 21”. Dia mencoba mengingat ingat. 1 2 3 4 5 6 Lihat Fiksiana Selengkapnya
cerpen jatuh cinta sama senior gila